BISNIS EXPO – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengingatkan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian terkait usulan perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone Market.
Pesan tersebut disampaikan dalam Media Day Oktober 2026 bertajuk “Navigating Uncertainty: A New Perspective on Indonesia’s Market” yang digelar secara daring, Selasa (20/10).
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan eksternal, mulai dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga tinggi, hingga kenaikan harga energi.
Tekanan tersebut turut membebani rupiah yang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS pada pertengahan Oktober 2026. Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah.
Mirae Asset memperkirakan inflasi dapat mencapai 4% pada akhir 2026, terutama dipengaruhi pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan. Sementara itu, inflasi September tercatat sebesar 3,28%.
“Fundamental ekonomi Indonesia masih relatif resilien, tetapi tekanan terhadap daya beli dan risiko inflasi tetap perlu dicermati,” ujar Rully.
Ketidakpastian pasar juga dipengaruhi usulan MSCI terkait klasifikasi Indonesia. Proses konsultasi masih berlangsung dan belum menjadi keputusan final. Menurut Rully, konsistensi reformasi pasar modal, transparansi kepemilikan saham, serta keterbukaan informasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,6% dalam sehari setelah pengumuman terkait MSCI. Kondisi ini meningkatkan volatilitas dan menambah tekanan terhadap arus dana asing.
Rully menilai koreksi harga saham dapat membuka peluang investasi, tetapi valuasi murah tidak menjamin pemulihan dalam waktu dekat. Investor perlu memperhatikan arus dana asing, perkembangan reformasi pasar, dan kemampuan emiten mempertahankan kinerja fundamental.
Saham Consumer Perlu Diseleksi
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Putu Chantika Putri Dhammayanti, mengatakan tekanan pasar juga berdampak pada sektor konsumer, meski dengan tingkat yang berbeda pada setiap emiten.
Pada 16 Oktober 2026, indeks sektor consumer non-cyclicals turun 10,1%. Saham MIDI merosot 12,4%, sedangkan AMRT terkoreksi 14,9%.
Perbedaan kinerja saham sepanjang tahun berjalan turut menunjukkan pentingnya seleksi. Hingga 16 Oktober 2026, MAPI mencatat kenaikan 13,3% secara year-to-date (YtD), sementara AMRT dan UNVR masing-masing terkoreksi sekitar 46,6% dan 46,5%.
Menurut Chantika, investor perlu mempertimbangkan perubahan pola konsumsi, tekanan biaya, kemampuan menjaga margin, prospek pertumbuhan laba, serta ketahanan volume penjualan.
“Investor perlu melihat apakah perusahaan masih mampu menjaga volume penjualan, mempertahankan profitabilitas, dan memiliki katalis pertumbuhan yang jelas,” jelasnya.
Dalam risetnya, Mirae Asset tetap mencermati saham MIDI, MAPI, dan CMRY dengan mempertimbangkan ketahanan volume serta prospek kinerja masing-masing perusahaan.
Mirae Asset Gandeng Pegadaian untuk Gadai Efek
Selain membahas pasar saham, Mirae Asset memperkenalkan layanan referral Gadai Efek melalui kerja sama dengan PT Pegadaian sebagai alternatif akses likuiditas bagi nasabah yang memiliki portofolio investasi.
Head of Business Development Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Simon Gunawan Sinaga, menjelaskan bahwa nasabah dapat mengajukan pinjaman dengan menjaminkan efek yang memenuhi kriteria, seperti saham tertentu atau obligasi pemerintah, tanpa harus langsung menjual aset investasinya.
Dalam skema ini, Mirae Asset bertindak sebagai mitra referral yang membantu pemeriksaan awal dokumen dan ketersediaan efek. Sementara itu, verifikasi, penilaian agunan, serta keputusan pemberian pinjaman menjadi kewenangan Pegadaian.
Efek yang dijaminkan tetap tercatat atas nama nasabah, tetapi diblokir selama menjadi agunan. Nasabah juga perlu memperhitungkan risiko penurunan nilai efek yang dapat memicu kewajiban penambahan agunan atau pelunasan sebagian. Jika kewajiban tidak dipenuhi, agunan berpotensi dijual.
Melalui Media Day Oktober 2026, Mirae Asset menekankan pentingnya strategi investasi yang selektif dan terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar, fundamental perusahaan, serta risiko investasi.




