BISNIS EXPO – Ketahanan finansial masyarakat menjadi semakin penting di tengah kenaikan biaya hidup dan meningkatnya biaya layanan kesehatan. Memasuki momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kemampuan menjaga kondisi keuangan dari berbagai risiko menjadi salah satu bentuk kemandirian yang perlu diperkuat.
Data Financial Wellbeing Index dari Prudential plc menunjukkan hanya sekitar 45 persen responden di Indonesia yang merasa yakin mampu menghadapi pengeluaran tidak terduga atau memiliki tabungan yang memadai untuk kebutuhan masa depan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tekanan biaya kesehatan juga terus meningkat. Berdasarkan Mercer Marsh Benefits Health Trends Report 2026, inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara-negara Asia yang berada di kisaran 11–12 persen.
Peningkatan biaya kesehatan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya kebutuhan dan utilisasi layanan kesehatan, perkembangan teknologi medis, hingga perubahan harga obat dan alat kesehatan.
Biaya Perawatan Naik Signifikan
Kenaikan biaya kesehatan juga tercermin dalam data internal klaim kesehatan Prudential Indonesia dan laporan industri asuransi Indonesia.
Dalam periode 2023–2026, harga kamar VIP tercatat naik dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2,35 juta atau meningkat sekitar 57 persen.
Sementara itu, biaya perawatan neurologi untuk jenis tindakan dan kelas rumah sakit yang sama meningkat hampir 300 persen, dari sekitar Rp55,2 juta menjadi Rp220,6 juta. Biaya perawatan kanker juga meningkat lebih dari 236 persen, dari Rp81,3 juta menjadi Rp273,8 juta.
Kenaikan biaya tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan tidak hanya berdampak terhadap kondisi fisik, tetapi juga dapat memberikan tekanan besar terhadap keuangan keluarga.
Karena itu, perencanaan finansial perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan risiko, termasuk kebutuhan kesehatan yang muncul secara tidak terduga.
Evaluasi Perlindungan Perlu Dilakukan Berkala
Ketahanan finansial tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan kondisi ekonomi, pekerjaan, kesehatan, maupun kebutuhan keluarga.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan, kesiapan finansial perlu dibangun secara berkelanjutan karena kebutuhan seseorang dapat berubah seiring perjalanan hidup.
“Kesiapan finansial merupakan proses yang perlu dibangun dan dievaluasi secara berkelanjutan. Perubahan dalam kehidupan maupun kondisi ekonomi dapat memengaruhi kebutuhan seseorang, sehingga penting bagi masyarakat untuk terus memahami kondisi finansial dan perlindungan yang dimiliki,” kata Yosie.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami kondisi finansial sekaligus mengevaluasi perlindungan yang dimiliki agar keputusan yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Pendampingan dari Mitra Bisnis Agency juga menjadi salah satu bagian dari upaya membantu nasabah memahami kebutuhan perlindungan dan pilihan yang tersedia.
Prudential Bayarkan Klaim Rp4,4 Triliun
Komitmen terhadap perlindungan juga tercermin dari pembayaran klaim dan manfaat yang dilakukan Prudential Indonesia.
Pada kuartal I 2026, Prudential Indonesia mencatat pembayaran klaim dan manfaat sebesar Rp4,4 triliun kepada 161.194 penerima manfaat.
Pembayaran tersebut menunjukkan peran perlindungan dalam membantu nasabah dan keluarga menghadapi risiko finansial ketika kondisi yang tidak diharapkan terjadi.
Di tengah tren peningkatan biaya kesehatan, membangun ketahanan finansial menjadi langkah yang semakin penting. Masyarakat perlu memastikan pengelolaan keuangan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan hari ini, tetapi juga mempertimbangkan tujuan jangka panjang dan kemampuan menghadapi risiko.
Dengan evaluasi finansial secara berkala, masyarakat dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan, kemampuan, serta perlindungan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga.

