BISNIS EXPO – Harga Bitcoin (BTC) melemah tipis pada perdagangan Senin (26/10/2026) pagi di tengah gelombang likuidasi posisi trading berleverage yang mengguncang pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 118.155 pelaku pasar mengalami likuidasi dengan nilai posisi yang ditutup paksa diperkirakan mencapai US$815 juta hingga US$821 juta atau setara sekitar Rp14,75 triliun berdasarkan kurs Rp18.093 per dolar AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 05.55 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 0,0896% menjadi US$80.438,06 per koin. Jika dikonversikan ke rupiah, nilainya mencapai sekitar Rp1,45 miliar per BTC.
Meski Bitcoin berada di zona merah, kapitalisasi pasar kripto global justru meningkat 0,13% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,69 triliun.
Pergerakan sejumlah aset kripto utama juga menunjukkan tren yang beragam. Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar, tercatat naik tipis 0,0896%. Sementara itu, Ethereum (ETH) menguat 0,0694% ke level US$2.342 dan Binance Coin (BNB) naik 0,7496% menjadi US$740.
Likuidasi Posisi Long Mendominasi
Mengutip data TradingView, gelombang likuidasi tersebut memengaruhi perdagangan derivatif berleverage pada sejumlah aset kripto utama, termasuk Bitcoin dan Ethereum.
Posisi long, yakni posisi yang mengandalkan kenaikan harga aset, disebut mencakup mayoritas posisi yang mengalami likuidasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa banyak trader yang sebelumnya bertaruh pada kenaikan harga menghadapi tekanan ketika pergerakan pasar tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Likuidasi merupakan kondisi ketika posisi perdagangan ditutup secara paksa karena dana jaminan atau margin tidak lagi mencukupi untuk menanggung pergerakan harga yang berlawanan dengan posisi trader.
Risiko tersebut semakin besar dalam perdagangan berleverage. Dengan menggunakan leverage, trader dapat mengendalikan posisi yang nilainya lebih besar daripada modal yang disetorkan. Namun, mekanisme ini juga memperbesar potensi kerugian ketika harga bergerak berlawanan dengan perkiraan.
Akibatnya, perubahan harga yang relatif kecil sekalipun dapat memicu likuidasi, terutama ketika trader menggunakan tingkat leverage tinggi.
Dominasi likuidasi posisi long menjadi indikasi adanya tekanan terhadap trader yang mengantisipasi kenaikan harga. Dalam kondisi tertentu, penutupan paksa posisi tersebut juga dapat memperbesar tekanan jual dan meningkatkan volatilitas pasar.
Likuidasi Bukan Berarti Seluruh Investor Rugi
Meski nilai likuidasi mencapai ratusan juta dolar AS, angka tersebut tidak serta-merta mencerminkan kerugian investor yang memiliki Bitcoin secara langsung di pasar spot.
Nilai likuidasi merujuk pada posisi perdagangan derivatif yang ditutup secara paksa, bukan total nilai aset kripto yang hilang dari seluruh investor.
Karena itu, besarnya likuidasi perlu dibaca bersama pergerakan harga, volume perdagangan, serta kondisi pasar secara keseluruhan untuk memahami tekanan yang sedang terjadi.
Di sisi lain, perubahan ekspektasi pasar juga terlihat pada Hyperliquid (HYPE). Probabilitas dalam pasar prediksi bahwa token tersebut akan mencapai US$100 hingga akhir 2026 dilaporkan berada di angka 33%, turun dari puncak 40% sepekan sebelumnya.
Penurunan probabilitas tersebut menunjukkan berkurangnya optimisme terhadap skenario kenaikan harga HYPE hingga level tersebut. Namun, angka pasar prediksi bukan jaminan atas harga yang akan terbentuk pada masa mendatang.
Investor Perlu Mencermati Risiko Leverage
Ke depan, pergerakan Bitcoin dan Ethereum, aktivitas perdagangan di bursa kripto, serta perkembangan partisipasi investor institusional akan menjadi sejumlah faktor yang dicermati pelaku pasar.
Di tengah volatilitas yang meningkat, investor perlu membedakan risiko perubahan harga aset kripto dengan risiko tambahan akibat penggunaan leverage.
Likuidasi dalam jumlah besar berpotensi memperburuk tekanan jual ketika kondisi pasar tidak stabil. Namun, besarnya likuidasi tidak secara otomatis menentukan arah pergerakan harga berikutnya.
Permintaan pasar, sentimen investor, arus modal, dan perkembangan kondisi ekonomi yang lebih luas tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar kripto selanjutnya.


