BISNIS EXPO — Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp 17.000 per dolar AS pekan ini, sebelum kembali menguat seiring sinyal gencatan senjata global, menyoroti tantangan yang lebih dalam bagi perekonomian Indonesia. Para ekonom menilai, tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersifat sementara, melainkan mencerminkan kerentanan struktural yang kian meningkat.
Dalam beberapa waktu terakhir, volatilitas rupiah memang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS. Namun, tekanan eksternal ini dinilai semakin berdampak karena kondisi fundamental domestik yang belum cukup kuat.
Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar keuangan. Cadangan devisa tercatat turun sebesar USD 3,7 miliar menjadi USD 148,2 miliar, sebagian akibat upaya menjaga nilai tukar. Selain itu, BI juga membeli surat utang negara senilai Rp 90 triliun sejak awal tahun untuk menopang stabilitas pasar.
Dari sisi fiskal, pemerintah berupaya meningkatkan pasokan devisa melalui optimalisasi pendapatan dari sektor komoditas. Target tambahan penerimaan sebesar Rp 23 triliun dari ekspor batu bara dan emas tengah dikejar, termasuk wacana penerapan pajak windfall. Pemerintah juga memperketat aturan agar eksportir menyimpan sebagian devisa hasil ekspor di dalam negeri.
Meski demikian, berbagai kebijakan tersebut dinilai belum mampu menahan tren pelemahan rupiah secara berkelanjutan.
Masuk Fase Pelemahan Struktural
Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Falianty, menyebut rupiah kini telah memasuki “keseimbangan baru” dengan tren depresiasi tahunan sekitar 2,5% hingga 3,5%.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor fundamental dan non-fundamental. Dari sisi fundamental, likuiditas domestik yang longgar, selisih suku bunga yang semakin menyempit, serta melemahnya neraca pembayaran menjadi faktor utama.
Selain itu, inflasi domestik yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain turut memperburuk tekanan terhadap nilai tukar.
Di sisi lain, faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, volatilitas pasar global, dan peningkatan risiko geopolitik mempercepat arus keluar modal dari pasar domestik.
Dampak Terbatas dari Boom Komoditas
Meskipun Indonesia diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, dampaknya terhadap penguatan rupiah dinilai terbatas. Sebagian besar devisa hasil ekspor masih disimpan di luar negeri, sementara kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri tetap tinggi.
Bank Indonesia menilai bahwa kenaikan harga komoditas tetap memberikan efek penyangga bagi perekonomian. Namun, para ekonom menilai dampaknya belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan rupiah.
Batas Intervensi Bank Sentral
Upaya intervensi BI dinilai memiliki keterbatasan. Penggunaan cadangan devisa secara terus-menerus berisiko menggerus buffer eksternal dan dapat memengaruhi kredibilitas kebijakan jika tidak diimbangi dengan perbaikan fundamental.
Kebijakan penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri juga dinilai hanya memberikan dampak jangka pendek, bahkan berpotensi menekan likuiditas perusahaan.
Kunci Utama: Kepercayaan Investor
Pada akhirnya, sensitivitas rupiah terhadap gejolak global mencerminkan persoalan utama, yakni kepercayaan investor. Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, serta tata kelola menjadi faktor yang mempercepat arus keluar modal.
Para ekonom menekankan pentingnya reformasi struktural, kebijakan fiskal yang kredibel, serta koordinasi kebijakan yang konsisten untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Tanpa perbaikan tersebut, setiap gejolak global berpotensi terus memberikan tekanan signifikan terhadap rupiah.


