Nasional

Kit, Inovasi Terbaru Deteksi Penyakit Udang

BisnisExpo.com Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meyakini, banyak metoda pengujian untuk mendeteksi penyakit, seperti (penyakit) yang disebabkan oleh virus ataupun bakteri terutama pengujian berbasis DNA/RNA melalui proses PCR (polymerase chain reaction).

Proses PCR pun bisa dilakukan secara konvensional, real time, atau bahkan Portable PCR. Metode ini umumnya satu-satu kit hanya mampu mendeteksi satu jenis penyakit.

Seiring dengan perkembangan teknologi pengujian penyakit udang saat ini, metoda baru bisa lebih efektif dan hasil yang lebih baik. Prosesnya, langsung menggunakan satu kali pengujian. Namun satu kali pengujian berhasil mendeteksi tiga sampai empat penyakit udang sekaligus.

”(metoda pengujian) dengan menggunakan stick strip. Sekali celup, (stick strip) ke dalam jaringan yang sudah dipreparasi akan mampu mendeteksi tiga sampai empat penyakit udang sekaligus. Hasilnya juga sangat baik,” ujar Kasubdit Residu Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan KKP Nana Sarip mengatakan kepada Redaksi di Jakarta, Senin (16/3).

Metode ini dikembangkan di Jepang dan perusahaan pengembang tersebut berencana memasarkan produk kit di Indonesia. Beberapa negara penghasil udang di Asia dan Amerika Latin juga menjadi target pemasaran metoda terbaru dan inovatif.

Kendatipun demikian, untuk rencana pengedaran di Indonesia, pemerintah mewajibkan pengujian. Sehingga kit pengujian terdaftar dan sesuai dengan matrik udang di Indonesia. Selain itu, metoda uji harus sudah tervalidasi.

”Saat ini metode tersebut sudah divalidasi dengan karakteristik penyakit udang di Indonesia, seperti WSSV, IHHNV, TSV ataupun IMNV. Perusahaan tinggal menunggu hasil uji mutu dari laboratorium LP2IL (Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan) di Serang, provinsi Banten,” kata Nana Sarip.

Melihat prospek dan kebutuhannya, perusahaan berencana meluaskan pasar kit pengujian deteksi penyakit udang di Amerika Latin. Hal ini juga bagian dan upaya alih teknologi pengujian kepada pihak distributor yang ada di salah satu negara di Amerika Latin, yakni Equador.

Kondisi di negara tersebut, ada keterbatasan fasilitas laboratorium yang dimiliki distributor di Indonesia. Perusahaan pengembang mengundang distributor dari Equador tersebut untuk datang ke Indonesia. Kunjungan dan kegiatan rutinnya, ahli penyakit ikan asal Equador tersebut belajar teknik pengujian deteksi penyakit udang.

“Mereka juga berkesempatan melihat laboratorium berstandar Internasional milik Indonesia di LP2IL Serang,” ungkap Nana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *