Keuangan

Penutupan Pasar, Rupiah Bergerak Melemah

BisnisExpo.com Jakarta – Rupiah bergerak melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah sebelumnya memang sudah menguat gila-gilaan sehingga akan datang saatnya investor memilih mencairkan keuntungan.
Pada Rabu (11/11/2020), US$ 1 setara dengan Rp 14.040 kala pembukaan pasar spot. Sama persis dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya atau stagnan.

Namun tidak lama kemudian rupiah masuk jalur merah. Pada pukul 09:07 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.050 di mana rupiah melemah tipis 0,07%.

Kemarin, rupiah menutup perdagangan pasar spot dengan apresiasi tipis 0,07% di hadapan dolar AS. Mata uang Tanah Air berhasil menguat enam hari beruntun, rantai penguatan terpanjang sejak 21-29 Juli lalu.

Ya, rupiah memang menggila akhir-akhir ini. Sejak akhir Oktober hingga kemarin (month-to-date), rupiah sudah menguat 4% di hadapan mata uang Negeri Paman Sam. Rupiah pun sah menjadi mata uang terbaik Asia.

Oleh karena itu, pasti akan datang saatnya investor merasa sudah menerima keuntungan yang besar dari rupiah. Hasrat untuk mencairkan cuan itu akan muncul, dan ketika itu terjadi rupiah akan terkena tekanan jual dan melemah.

Selain itu, pelaku pasar juga mencemaskan perkembangan di AS. Pemilihan presiden (pilpres) memang sudah ketahuan pemenangnya, Joseph ‘Joe’ Biden dari Partai Demokrat. Namun sang petahana Donald Trump sepertinya belum bisa menerima kekalahan ini.
Trump ngotot terdapat kecurangan dalam pilpres. Surat suara fiktif, penghalangan saksi, dan berbagai kecurangan lain disuarakan oleh sang presiden ke-45 Negeri Adikuasa.

“Pemantau tidak boleh masuk ke ruang perhitungan. Saya menang pilpres, mendapat 71.000.000 suara legal. Hal-hal buruk terjadi karena pemantau kami tidak boleh melihat. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Jutaan surat suara melalui pos dikirimkan kepada orang-orang yang pernah memintanya,” cuit Trump di Twitter.

Biden memang belum resmi jadi presiden, statusnya baru presiden terpilih. Biden akan resmi menjadi presiden beragama Katolik kedua dalam sejarah AS setelah John F Kennedy pada 20 Januari 2021.

Namun sepertinya proses transisi kekuasaan tidak akan lancar. Trump ngotot ingin membawa hasil pilpres ke jalur hukum.

“Kami akan terus maju dengan cara konsisten, menata pemerintahan, Gedung Putih, memilih menteri dalam kabinet, dan tidak ada yang bisa menghentikan itu. Bapak Presiden (Trump), saya menunggu untuk berbicara dengan Anda,” tegas Biden, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Proses transisi yang memanas ini membuat investor sedikit cemas. Kekhawatiran ini kemudian membuat pelaku pasar agak berhati-hati, tidak mau mengambil risiko.

“Pertunjukan sirkus di Washington memunculkan kekhawatiran apakah proses transisi akan mulus. Api di Washington terus membara,” ujar Tim Ghriskey, Chief Investment Strategist Inverness Counsel yang berkedudukan di New York, seperti dikutip dari Reuters.

Bursa saham New York yang kemarin melesat kini ditutup cenderung melemah. Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,9%, tetapi S&P 500 turun 0,14% dan Nasdaq Composite anjlok 1,37%.

Ini menjadi bukti investor kurang pede untuk mengoleksi aset-aset berisiko. Sikap yang sama kemudian terbentuk di pasar keuangan Asia, yang menyebabkan rupiah terkoreksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *