Gaya Hidup

Lima Mahasiswa IKJ Tampil Dalam Fashion Virtual Show Ali Charisma Sustainable dan Charity

BisnisExpo.com Jakarta – Institut Kesenian Jakarta merupakan salah satu perguruan tinggi yang diberikan kesempatan untuk tampil dalam opening fashion show virtual Sustainable dan Charity bersama fashion designer Ali Charisma. Institut Kesenian Jakarta sangat mendukung kegiatan ini, sangat senang dan bangga menjadi bagian dari fashion show tersebut. Selain dapat menampilkan karya-karya mahasiswa Desain Produk Mode Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, kami juga dapat turut serta dalam gerakan Sustainable and
Charity Fashion.

Bagi kami Program Studi Desain Produk Mode yang bernaung di bawah Fakultas Seni Rupa IKJ, dalam berkarya kreatif saja tidak cukup tetapi kita juga harus peduli, baik dengan sesame manusia maupun dengan alam ini. IKJ menampilkan karya dari lima mahasiswa Program Studi Desain Produk Mode Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta menampilkan 30 karya fashion dari lima mahasiswa yang masing-masing mahasiswa menampilkan 6 karya, yang terdiri dari lima karya ready to wear dan satu karya art wear. Karya yang tampil adalah karya Tugas Akhir mahasiswa yang dipilih karena kesesuaian tema karya dengan tema besar fashion show virtual tersebut.

Adapun nama-nama mahasiswa / designer dan judul koleksi busana yang berkesempatan mengikuti virtual fashion show sebagai berikut:

The Beuty of Legacy
Nur Alfianita

“The Beauty of Legacy” terinspirasi dari
kekayaan Budaya dalam acara Karnaval
tua suku Buton di Sulawesi Tenggara.
Karnaval tua suku Buton merupakan acara turun temurun yang dilakukan sejak zaman kesultanan Buton pertama tahun 1332 M hingga saat ini. Karnaval tua suku Buton adalah kegiatan yang hanya bisa dilakukan dari kelompok keraton yang akan melakukan sebuah ritual sebelum memasuki area pantai. Ritual tersebut termasuk situs sejarah keraton Buton dengan melakukan sebuah penghormatan jasa petinggi Raja Halu Oleo sebagai Kerajaan Sultan Buton dengan cara berziarah. Kegiatan karnaval ini kelompok masyarakat keraton terlihat mengenakan kain tenun dengan cara bertabrak corak motif hal ini sudah menjadi tadisi orang Buton. Berdasarkan inspirasi Koleksi busana akan ditujukan untuk wanita karir berusia 22 – 35 tahun dengan Style Arty Off Beat dan Grunge Look untuk menyampaikan suasana dari karnaval kedalam koleksi busana mengacu pada trend forecasting 2019/2020 tema besar trend Svarga dan sub Festive Fiesta. Penggunaan bahan disusun dengan bentuk tidak beraturan atau kontras bahan yang berbeda untuk menampilkan kesan glory dan eksektrik, aksen sambungan bahan berbeda dan tabrak motif garis-garis dan kotak-kotak yang akan menggambarkan grunge look. Untuk mewakili sifat yang eksentrik melalui aksen paneling tabrak corak motif dan warna, detail nyeleneh dan progresif. Material yang digunakan adalah bahan yang lembut sejenis katun premium dengan motif kotak-kotak dan menggunakan bahan bahan lurik dengan motif garis-garis sebagai bahan utama.

The Mystical Light
Dinda Shefila

“The Mystical Light” yang mengambil
inspirasi dari Suasana Saat Menikmati Fenomena Aurora Borealis dengan Style Feminine Dramatic dan Look Bohemian dengan target market wanita berusia 25-35 tahun, menengah dan atas yang tinggal di kota metropolitan, menggunakan Trend 2019/2020 Singularity : Cortex dan subtren Glitch. “The Mystical Light” penulis memilih mengunakan bahan yang gramasinya ringan dan juga tipis untuk menyesuaikan dengan tema Aurora yang dipilih. Material kain yang digunakan didominasi dengan beberapa kain berjenis chiffon. Dalam koleksi ini terdapat lebih dari satu jenis kain chiffon dengan warna dan motif yang beragam dengan menyesuaikan keterkaitannya dengan kolase tema. Mengambil motif-motif abstrak yang halus dan berbayang dengan warna cerah yang dipadukan dengan warna shade untuk menampilkan kedua sifat yaitu amazing dan juga misterius yang dramatis.

Chain Reaction
Annisa Nur Ratnasari

“Chain Reaction” yang sepenuhnya terinpirasi dari suasana saat terjadinya
tragedi berdarah Trisakti tahun 1998. Tragedi Trisakti merupakan salah satu peristiwa pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia dalam rangkaian
kerusuhan di tahun 1998. Pelanggaran HAM yang terjadi atas meninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti oleh petugas saat melakukan orasi turunnya Presiden Suharto dan aksi damai di jalan. Aksi anarkis yang diawali dengan saling ejek ini pecah, suasana di jalan saat terjadinya kejar-kejaran antara petugas dan mahasiswa sangatlah ricuh dan mencekam. Suasana inilah yang diangkat menjadi inspirasi koleksi busana “Chain Reaction” menampilkan busana yang terlihat cadas yang didapat dari teknik dan treatment pada busana , juga seruan-seruan khas orasi berupa tipografi yang wearable dan modern. Koleksi ini didesain bergaya Art Off
Beat dengan tampilan yang Grunge dengan pasar yang dituju adalah wanita dan pria berusia 23- 30 tahun. Koleksi busana “Chain Reaction” didesain mengacu pada trend 2019/2020 bertema Neo Medival dengan sub tema Armory.

Sesuai dengan tema yang diangkat kolase bahan ini berisi material seperti denim, leather, hingga suade, pemilihan material denim dan leather adalah karena kedua bahan tersebut memiliki karakteristik yang maskulin, sehingga busana yang dibuat dari material tersebut akan terkesan cadas. Diolah dengan teknik paneling acak dengan tusuk hias yang terekspos, brushing, dan bleaching untuk memdaptakan kesan ricuh. Tusuk hias yang terekspos sendiri merupakan variasi dari jenis jahitan untuk mendapatkan tekstur dan kesan tersendiri. Sedangkan material basic seperti linen berwarna broken white yang diberi teknik bordir diatasnya berisi tulisan- tulisan aspirasi memeberi gambaran sifat pemberontakan menyalurkan aspirasi.

The Ravage
Wildan Affitrah

The Ravage” yang terinspirasi dari
peristiwa Hancurnya Pearl Harbor merupakan peristiwa yang sangat mengerikan dimasa Perang Dunia kedua. Hancurnya Pearl Harbor ini dilakukan oleh para tentara Jepang yang sudah dikhianati oleh Amerika Serikat dalam hubungan kerja sama dibidang industri dan minyak. Pengkhianatan ini membuat Jepang merasa kecewa. Pada tahun 7 Desember 1941 pasukan Kamikaze melakukan serangan ke pangkalan militer Pearl Harbor dengan cara menubrukkan pesawat-pesawat mereka kepangkalan militer Pearl Harbor secara ekstreme. Akibat dari
serangan tersebut banyak mayat-mayat berserakan dan puing-puing hancur porak-poranda. Bedasarkan inspirasi tersebut, koleksi busana “ The Ravage “ mengacu pada Trend tahun 2019/2020 Singularity dengan tema Neo Medieval dan sub tema Dystopian Fortress dengan style Sporty Dramatic dan look Army look menampilkan karakter busana yang memberi kesan Ekstreme dan Porak-poranda ditujukan untuk pria dan wanita dewasa yang berusia 22-40 tahun diperkotaan.

Menentukan bahan yang disesuaikan dengan suasana hancurnya Pearl Harbor. Pada sifat pertama yaitu Ekstrem penulis menggunakan bahan katun poplin untuk mencapai bentukan yang sesuai dengan sifat yang telah ditentukan yang mengacu pada moodboard. Sifat kedua yaitu Porak-poranda penulis menggunakan bahan katun poplin dan taslan untuk memberikan kesan porak-poranda dengan menerapkan beberapa teknik sehingga kain yang dihasilkan memiliki bentukan baru sesuai dengan sifat yang telah ditentukan. Sifat Ekstrim dan Porak-poranda pada sifat kolase bahan ditampilkan dengan pemilihan bahan yang digunakan dalam koleksi busana siap pakai menggunakan bahan katun poplin, katun taslan, dan dilengkapi dengan detail kerut dan cut out.

Breaking The Challenge
Alfian Andang Wisudawan

Kelainan genetika merupakan ketidak sempurnaan sel pada tubuh manusia, hal tersebut diakibatkan dari berbagai factor baik dari factor baik secara internal dan exsternal. Salah satu kelainan genetic dari factor internal dan external adalah buta warna. Buta warna merupakan kelainan genetika sejak belum terbentuk janin, hal tersebut tidak dapat dideteksi, namun akan terlihat Ketika seseorang sudah mulai tumbuh dewasa. Disini desainer sebagai pelaku pengidab buta warna ingin membagikan pengalaman berkaitan dengan warna, bagaimana dampak buta warna dalam kehidupan sehari-hari berupa emosi yang yag dirasakan penulis sebagai pengidab buta warna yang bekerkecimpung di dunia seni dan cara bertahan di ruang lingkup seni walau dengan keterbatasanya. Dari hal tersebut dapat dijadikan sumber inspirasi yang menarik untuk dijadikan tema dalam berkarya, seperti dalam koleksi siap pakai.

“Breaking The Challenge” yang terinpirasi bagaimana keadaan penulis sebagi pengidap buta warna dalam menghadapi warna yang digambarkannmelalui perasaan desainer berupa rasa Marah, sedih, ragu-ragu, tertekan dan tegang, Berdasarkan inspirasi tersebut, koleksi busana “Breaking the Challange” menampilkan busana dengan karakter yang terlihat terbatas namun expresif yang menjadi identitas diri dari penulis, fashionable, dan juga modern, dengan bergaya style arty dramatic dan look edgy terkait dengan trend exuberant dan subtema urban caricature ditunjukkan untuk target market pria dan wanita karir modern usia 25-50 tahun tinggal didaerah perkotaan dan merupakan pria
dan wanita dengan perekonomian menengah keatas.Bahan yang berkaitan dengan dua sifat yaitu terbatas dan emosional. Sifat terbatas dihadirkan dengan penggunaan warna natural hitam dan putih tentunya menggunakan bahan bertexture kasar. Sifat emosional dalam koleksi busana akan menggunakan material yang kasar seperti bahan yang ada tektur variasi, bisa juga motif garis yang beraneka ragam dan bentuk untuk mewakili edgy look. Motif garis abstrak dan tidak teratur disusun berpotongan tegak, mendatar, menyamping juga asimetris untuk menghasilkan karakter emosional, penulis mengambil teknik panelling tabrak motif untuk menerjemahkan kata sifat terbatas pada edgy look.

Kami sangat berterimakasih kepada bapak Ali Charisma dan team, sebagai pemerkasa kegiatan ini telah mengikut sertakan kami Program Studi Desain Produk Mode Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dalam kegiatan Sustainable dan Charity Virtual Fashion Show yang diadakan pada tanggal 26 Februari sampai dengan 28 Februari 2021, yang diikuti beberapa perguruan tinggi yang memiliki program studi fashion. Dimana perguruan tinggi tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta tetapi juga Surabaya dan Bali. Kami berharap ke depan akan banyak kegiatan-kegiatan fashion yang terinspirasi dari kegiatan ini, sehingga semakin banyak pecinta dan praktisi fashion yang peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *