Nasional

MUI: Daging Kurban Boleh Dalam Bentuk Olahan

BisnisExpo.Com Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharapkan ibadah Idul Adha dapat memberikan jawaban atas masalah sosial ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh, berpendapat, ada dua dimensi penting dalam Hari Raya Idul Adha. Dimensi pertama adalah ketaatan menjalankan ketentuan ibadah yang mengikuti prosedur syariat. Dimensi kedua adalah terkait aspek sosial yang sepatutnya memperhatikan kemaslahatan dan mencegah mudarat (kerugian).

Di masa pandemi COVID-19 ini, seluruh umat Islam diminta untuk turut membantu sesama terutama kepada mereka yang terkena langsung dampaknya, baik secara ekonomi, sosial, maupun kesehatan. Dengan begitu, kurban telah mengisi ruang kemaslahatan.

“Hari ini kita sedang berada di dalam wabah, ada dampak yang langsung dialami oleh masyarakat, baik dampak kesehatan, dampak sosial termasuk juga dampak ekonomi. Maka ibadah kurban ini juga harus didedikasikan untuk kepentingan menjawab masalah sosial ekonomi masyarakat,” ujar Asrorun dalam Dialog KPCPEN, Rabu (14/7/2021).

Atas dasar itu, Asrorun mengajak pelaksanaan ibadah kurban dimanfaatkan untuk mengurangi beban masyarakat. Pihaknya juga merekomendasikan daging kurban tidak hanya dalam bentuk mentah saja, tetapi bisa diolah dan dikemas dalam bentuk lain.

“Majelis Ulama Indonesia disamping mengatur pelaksanaan aktivitas ibadah kurbannya, juga menetapkan fatwa kebolehan pemanfaatan daging kurban. Dengan cara apa? Dengan cara dikalengkan, dengan cara dibuat kornet, dengan cara dibuat rendang, agar nilai manfaat dari ibadah penyembelihan kurban ini optimal bagi masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut Asrorun mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan pada pelaksanaan ibadah Idul Adha.

“Jangan sampai pengen takbiran pengen syiar kemudian dilakukan secara sembrono tidak menjaga protokol kesehatan akhirnya terpapar covid. Ini juga tidak diperkenankan,” imbuhnya.

“Pelaksanaan ibadah solat idul adha juga demikian, jangan sampai karena pengen taat kepada Allah SWT dengan menjalankan secara sempurna, tetapi tidak memperhatikan aspek keselamatan diri dan juga orang lain. Jadi perlu ada keberimbangan,” tambahnya.

Demikian juga di dalam pelaksanaan aktivitas penyembelihan ibadah kurban, masyarakat diminta untuk tidak menimbulkan kerumunan sehingga terjadi potensi penularan.

“Tentu ini harus dijalankan secara seiring dan juga seimbang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *